coba membantu sobat sekalian yang butuh pengetikan
contact saya ya......(021) 92474065, 089675107772, bb : 7d2529de
Home » Archive for 2015
MAKALAH KEPERAWATAN DEWASA III “PNEUMONIA”
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pneumonia
adalah radang parenkim paru-paru atau infeksi akut yang mengenai jaringan
paru-paru. Pneumonia disebabkan oleh bakteri, virus, mycoplasma pneumonia,
jamur, aspirasi, pneumonia hypostatic, dan sindrom weffer. Gejala penyakit ini
berupa nafas cepat dan nafas sesak, karena paru meradang secara mendadak.
Pneumonia
sering terjadi pada anak usia 2 bulan – 5 tahun, pada usia dibawah 2 bulan
pneumonia berat ditandai dengan frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali / menit
juga disertai penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah kedalam. Pada usia
2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali /
menit dan pada usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun frekuensi pernafasan
sebanyak 40 kali / menit. Pneumonia berat ditandai dengan adanya gejala seperti
anak tidak bisa minum atau menelan, selalu memuntahkan semuanya, kejang,dan
terdapat tarikan dinding dada kedalam dan suara nafas bunyi krekels (suara
nafas tambahan pada paru) saat inspirasi. Kasus terbanyak terjadi pada anak
dibawah 3 tahun dan kematian terbanyak pada bayi yang berusia kurang dari 2
bulan. Apabila anak diklasifikasikan menderita pneumonia berat di puskesmas
atau balai pengobatan, maka anak perlu segera dirujuk setelah diberi dosis pertama
antibiotik yang sesuai
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1
Tujuan
Umum
Mahasiswa
mendapat gambaran dan pengalaman tentang penetapan proses asuhan keperawatan
secara komprehensif terhadap klien pneumonia
1.2.2
Tujuan
Khusus
Setelah
melakukan pembelajaran tentang asuhan keperawatan dengan pneumonia. Maka mahasiswa/i
diharapkan mampu :
a.
Melakukan pengkajian
keperawatan pada klien dengan pneumonia
b.
Merumuskan diagnosa
keperawatan pada klien dengan pneumonia
c.
Merencanakan tindakan
keperawatan pada klien dengan pneumonia
d.
Melaksanakan tindakan
keperawatan pada klien dengan pneumonia
e.
Melaksanakan evaluasi
keperawatan pada klien dengan pneumonia
1.3 Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri
dari empat bab, yaitu :
BAB
I. Pendahuluan berisikan Latar
Belakang, Tujuan Penulisan, Sistematika Penulisan
BAB
II. Tinjauan teori berkaitan dengan
konsep dasar penyakit pneumonia berisi Anatomi Fisiologi, Definisi, Penyebab
(Etiologi), Patofisiologi, Manifestasi Klinik, Komplikasi, Pemeriksaan
Penunjang, Penatalaksanaan Medis, Asuhan
keperawatan mulai dari Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan /
Implementasi.
BAB
III. Tinjauan
Kasus
BAB
IV. Penutup
yang berisi Kesimpulan dan Saran
BAB II
TINJAUAN
TEORITIS
2.1
Anatomi dan Fisiologi
Pernapasan atau respirasi adalah mekanisme yang terjadi
ketika tubuh kekurangan oksigen (O2) dan kemudian menghirup
(inspirasi) oksigen yang ada di luar melalui organ-organ pernapasan. Pada
keadaan tertentu, bila tubuh kelebihan karbondioksida (CO2), maka
tubuh berusaha untuk mengeluarkannya dari dalam tubuh dengan cara menghembuskan
napas (ekspirasi) sehingga terjadi suatu keseimbangan antara oksigen dan
karbondioksida dalam tubuh. Berikut organ-organ dalam sistem pernapasan
manusia. (Junaidi, Iskandar. 2010).
Sistem organ yang terkait dengan penyakit ini adalah
sistem pernafasan. Sistem pernafasan terdiri dari :
Hidung
Rongga hidung dilapisi oleh epitelium gergaris. Terdapat sejumlah
kelenjar sebaseus yang ditutupi oleh bulu kasar. Partikel - partikel debuyang
kasar dapat disaring oleh rambut -rambut yang terdapat dalamlubang hidung,
sedangkan partikel yang halus akan terjerat dalam lapisanmukus yang disekresi
oleh sel goblet dan kelenjar serosa. Gerakan silia mendorong lapisan mukus ke
posterior di dalam rongga hidung dan kesuperior di dalam sistem pernafasan di
bagian bawah menuju ke faring. Dari sini lapisan mukus akan tertekan atau
dibatukkan keluar. Air untuk kelembaban diberikan oleh lapisan mukus, sedangkan
panas yang disuplaike udara inspirasi berasal dari jaringan di bawahnya yang
kaya akan pembuluh darah. Jadi udara inspirasi telah disesuaikan sedemikian
rupa sehingga bila udara mencapai faring hampir bekas debu, bersuhu mendekati
suhu tubuh dan kelembabannya mencapai 100%. Bagian - bagian hidung terdiri atas :
a.
Batang hidung
b.
Dinding depan hidung
c.
Septum nasi (sekat hidung)
d.
Dinding lateral rongga hidung
Faring
Terdapat di bawah dasar tengkorak di belakang rongga hidung dan rongga
mulut dan di depan ruas tulang leher. Merupakan pipa yang menghubungkan rongga
mulut dengan esofagus. Faring terbagi atas 3 bagian yaitu nasofaring di
belakang hidung, orofaring di belakang mulut dan faring laringeal di belakang
laring. Rongga ini dilapisi oleh selaput lendir yang bersilia. Di bawa selaput
lendir terdapat jaringan kulit dan beberapa folikel getah bening. Kumpulan
folikel getah bening ini disebut adenoid. Adenoid akan membesar bila terjadi
infeksi pada faring
Laring
Terletak di depan bagian terendah faring. Laring merupakan rangkaian
cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot dan di sana terdapat pita suara.
Di antara pita suara terdapat ruang berbentuk segitiga yang bermuara ke dalam
trakea dan dinamakan glotis. Pada waktu menelan, gerakan laring ke atas,
penutupan glotis, dan fungsi seperti pintu pada aditus laring dari epiglotis
yang berbentuk daun, berperanan untuk mengarahkan makanan dan cairan masuk ke
dalam esofagus. Namun jika benda asing masih mampu untuk melampaui glotis, maka
laring yang mempunyai fungsi batuk akan membantu menghalau benda dan sekret
keluar dari saluran pernafasan.
Trakea
dan cabang – cabangnya
Panjangnya kurang lebih 9 centimeter. Trakea berawal dari laring sampai
kira - kira ketinggian vertebra torakalis kelima, trakea bercabang menjadi dua
bronkus. Trakea tersusun atas enam belas sampai dua puluh lingkaran tidak
lengkap berupa cincin tulang rawan yang diikat bersamaoleh jaringan fibrosa.
Letaknya tepat di depan esofagus. Trakea dilapisioleh selaput lendir yang
terdiri atas epitelium bersilia. Tempat percabangan bronkus disebut karina.
Karina memiliki banyak saraf dandapat menyebabkan spasme dan batuk yang kuat
jika dirangsang. Struktur bronkus sama
dengan trakea. Bronkus - bronkus tersebut tidak simetris.
Bronkus
Bronkus kanan lebih pendek dan lebih lebar dan merupakan kelanjutan dari
trakea yang arahnya hampir vertikal, sebaliknya bronkus kiri lebih panjang dan
lebih sempit dan merupakan kelanjutan dari trakeadengan sudut yang lebih tajam.
Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan
kemudian bronkus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronkus
yang ukurannya semakin kecil sampai akhirnya menjadi bronkiolus terminalis
yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli. Bronkiolus
terminalis memiliki garis tengah kurang lebih 1 mm. Bronkiolus dikelilingi oleh
otot polos bukan tulangrawan sehingga bentuknya dapat berubah. Setelah
bronkiolus terminalis terdapat asinus yang merupakan unit fungsional paru -
paru yaitu tempat pertukaran gas. Asinus terdiri dari :
a.
Bronkiolus respiratorius
b.
Duktus alveolaris
c.
Sakus alveolaris terminalis, merupakan struktur akhir paru - paru.
terdapat sekitar 23 kali percabangan mulai dari trakea sampai sakusalveolaris
terminalis. Alveoli terdiri dari satu lapis tunggal sel epitelium pipih, dan di
sinilah darah hampir langsung bersentuhan dengan udara. Dalam setiap paru-paru
terdapat sekitar 300 juta alveolus dengan luas permukaan total seluas sebuah
lapangan tenis.
Paru - paru merupakan alat pernafasan utama. Paru - paru merupakan organ
yang elastis, berbentuk kerucut, dan letaknya di dalam rongga dada. Karena paru
- paru saling terpisah oleh mediastinum sentral yang di dalamnya terdapat
jantung dan beberapa pembuluh darah besar. Setiap paru – paru memiliki apeks
(puncak paru-paru) dan basis. Paru - paru ada dua. Paru - paru kanan lebih
besar dari pada paru - paru kiri. Paru - paru kanan dibagi menjadi tiga lobus
oleh fisura interlobaris, paru - paru kiri dibagi menjadi dua lobus. Setiap
lobus tersusun atas lobula. Paru - paru dilapisi suatu lapisan tipis membran
serosa rangkap dua yang mengandung kolagen dan jaringan elastis yang disebut
pleura.
Gerakan Masuk Paru-paru. Paru-paru merupakan struktur elastik yang dapat
mengempis seperti balon bila tidak ada kekuatan untuk mempertahankan
pemgembangannya sewaktu mengeluarkan semua udaranya melalui trakea. Tidak
terdapat perlengketan antara paru-paru dan dinding rongga dada. Paru-paru
mengapung dalam rongga dada dan dikelinlingi oleh lapisan tipis berisi cairan
pleura yang menjadi pelumas bagi gerakan paru-paru dalam rongga dada. Ketika
melakukan pemngenbangan berkontraksi, maka paru-paru dapat bergeser secara
bebas karena terlumas rata. (Syaifuddin, 2009).
Inspirasi
Selama bernafas tenang tekanan intrapleura di tambah 2,5 mmHg sampai 6
mmHg dan paru-paru ditarik kearah posisi yang lebih mengembang, tertanam dalam
jalan udara menjadi sedikit negative dan udara mengalir ke dalam paru - paru.
Pada akhirnya inspirsi, recoil menarik dada kembali ke posisi ekspirasi di mana
tekanan recoil (gerakan) paru-aparu dan dinding dada seimbang.
Ekspirasi
Selama pernapasan tenang otot berada dalam keadaan positif yang berarti
bahwa tidak ada otot-otot yang nenurunkan volume untuk toraks saat
berkontraksi. Pada permulaan ekspirasi, kontraksi ini menimbulkan kerja yang
menahan kekuatan recoil dan melambatkan ekspirasi. Inspirasi yang kuat berusaha
mengurangi tekanan intrapleura sampai serendah 30 mmHg dan menimbulkan
pengembangan paru-paru dengan derajat yang lebih besar.
Volume
dan Kapasitas Paru-paru
Metode yang sederhana untuk meneliti ventilasi paru-paru dengan merekam
volume pergerakan udara yang masuk dan keluar paru-paru dinamakan spirometri.
Spirogram memperlihatkan perubahan dalam volume paru-paru pada berbagai keadaan
pernapasan.
2.2
Definisi
Pneumonia
adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus
terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan
konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas setempat.
(Zul, 2001)
Pneumonia
merupakan peradangan pada parenkim paru yang terjadi pada masa anak-anak dan
sering terjadi pada masa bayi. Penyakit ini timbul sebagai penyakit primer dan
dapat juga akibat penyakit komplikasi. (A. Aziz Alimul : 2006).
Pneumonia
didefinisikan sebagai inflamasi / peradangan pada parenkim paru, yang dicirikan
oleh konsolidasi bagian-bagian yang terkena dan terisinya rongga alveolus oleh
eksudat, sel-sel radang dan fibrin. Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh
infeksi bakteri, virus, dan dapat juga disebabkan oleh inhalasi bahan kimia,
trauma pada dinding dada atau agen-agen infeksius lainnya seperti riketsia,
fungi.
Pneumonia
adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru atau alveoli.
Terjadinya pneumonia, khususnya pada anak, seringkali bersamaan dengan proses
infeksi akut pada bronkus, sehingga biasa disebut dengan bronchopneumonia.
Gejala penyakit tersebut adalah nafas yang cepat dan sesak karena paru-paru
meradang secara mendadak.
Faktor-faktor
yang meningkatkan resiko kematian akibat pnemonia, yaitu :
a. Umur
dibawah 2 bulan
b. Tingkat
sosio ekonomi rendah
c. Gizi
kurang
d. Berat
badan lahir rendah
e. Tingkat
pendidikan ibu rendah
f. Tingkat
pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan rendah
g. Kepadatan
tempat tinggal
h. Imunisasi
yang tidak memadai
i.
Menderita penyakit
kronis
2.3
Klasifikasi Pneumonia
Klasifikasi
menurut Zul Dahlan (2001) :
1. Berdasarkan
ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas :
a.
Pneumonia tipikal,
bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris dengan
opasitas
lobus atau lobularis.
b.
Pneumonia atipikal,
ditandai gangguan respirasi yang meningkat
lambat
dengan gambaran infiltrat paru bilateral yang difus.
2. Berdasarkan
faktor lingkungan :
a.
Pneumonia komunitas
b.
Pneumonia nosokomial
c.
Pneumonia rekurens
d.
Pneumonia aspirasi
e.
Pneumonia pada gangguan
imun
f.
Pneumonia hipostatik
3. Berdasarkan sindrom klinis
a.
Pneumonia bakterial
berupa : pneumonia bakterial tipe tipikal yang terutama mengenai parenkim paru
dalam bentuk bronkopneumonia dan pneumonia lobar serta pneumonia bakterial tipe
campuran atipikal yaitu perjalanan penyakit ringan dan jarang disertai
konsolidasi paru.
b.
Pneumonia non
bakterial, dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan
Mycoplasma,
Chlamydia pneumoniae atau Legionella.
Klasifikasi
berdasarkan Reeves (2001) :
a. Community
Acquired Pneunomia dimulai sebagai penyakit pernafasan
umum
dan bisa berkembang menjadi pneumonia. Pneumonia Streptococal
merupakan
organisme penyebab umum. Tipe pneumonia ini biasanya
menimpa
kalangan anak-anak atau kalangan orang tua.
b. Hospital
Acquired Pneumonia dikenal sebagai pneumonia nosokomial.
c. Organisme
seperti ini aeruginisa pseudomonas. Klibseilla atau aureus
stapilococcus,
merupakan bakteri umum penyebab hospital acquired
pneumonia.
d. Lobar
dan Bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi
infeksi.
Sekarang ini pneumonia diklasifikasikan menurut organisme,
bukan
hanya menurut lokasi anatominya saja.
e. Pneumonia
viral, bakterial dan fungi dikategorikan berdasarkan pada agen
penyebabnya,
kultur sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan
organisme
perusak.
2.4
Etiologi
a. Bakteri
Pneumonia
bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif seperti :
Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus pyogenesis. Bakteri gram
negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.
b. Virus
Disebabkan
oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus
dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
c. Jamur
Infeksi
yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara
yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta
kompos.
d. Protozoa
Menimbulkan
terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti pasien
yang mengalami immunosupresi.
Pneumonia dapat
disebabkan oleh mikroorganisme, iritasi dan penyebab yang tidak diketahui.
Ketika pneumonia dikelompokkan dengan cara ini menyebabkan infeksi adalah jenis
yang paling umum. Gejala pneumonia menular disebabkan oleh invasi paru-paru
oleh mikroorganisme dan respon sistem kekebalan tubuh untuk infeksi. Meskipun
lebih dari seratus jenis mikroorganisme dapat menyebabkan pneumonia, hanya
sedikit yang bertanggung jawab untuk kebanyakan kasus. Penyebab paling umum
pneumonia adalah virus dan bakteri. Penyebab kurang umum pneumonia menular adalah
jamur dan parasit. (Sudoyo, Aru W , 2006).
2.5 Patofisiologi
Paru merupakan struktur kompleks yang terdiri atas kumpulan unit yang
dibentuk melalui percabangan progresif jalan napas. Saluran napas bagian bawah
yang normal berada dalam keadaan steril, walaupun bersebelahan dengan sejumlah
besar mikroorganisme yang menempati orofaring dan terpajan oleh mikroorganisme
dari lingkungan di dalam udara yang dihirup. Sterilisasi seluruh napas bagian
bawah ini adalah hasil mekanisme penyaringan yang efektif oleh organ-organ
pernapasan sebelah atas. Tubuh sebenarnya akan langsung mengaktifkan mekanisme
pertahanan saat terjadi inhalasi bakteri mikrioorganisme penyebab pneumonia
maupun akibat penyebaran secara hematogen dari tubuh dan aspirasi melalui
orofaring. Tubuh pertama kali akan melakukan mekanisme pertahan primer dengan
meningkatkan respons radang.
Timbulnya hepatisasi merah dikarenakan perembesan eritrosit dan
beberapa leukosit dari kapiler paru - paru. Pada tingkat lanjut, aliran darah
menurun sehingga aveoli penuh dengan leukosit dan relatif sedikit eritrosit.
Kuman pnemococcus difagasit oleh leukosit dan sewaktu resolusi berlangsung
magrofag masuk ke dalam tahap hepasisasi abu-abu dan tampak berwarna abu-abu
kekuningan. Secara perlahan,sel darah merah yang mati dan eksudat fibrin
dibuang dari alveoli. Terjadi resolusi sempurna paru kembali menjadi normal
tanpa kehilangan kemampuan dalam pertukaran gas. Pneumonia aspirasi dapat
disebabkan oleh infeksi kuman, pneumonitis kimia akibat aspirasi bahan toksis.
Penyakit ini juga bisa diakibatkan oleh aspirasi cairan inert, misalnya cairan
makanan atau lambung, edema paru, dan obstruksi mekanik simpel oleh bahan
padat. (Corwin, Elizabeth J.2001)
2.6 Pathway

2.7 Manifestasi Klinis
1. Kesulitan
dan sakit pada saat pernafasan
·
Nyeri pleuritik
·
Nafas dangkal dan
mendengkur
·
Takipnea
2. Bunyi
nafas di atas area yang menglami konsolidasi
·
Mengecil, kemudian
menjadi hilang
·
Krekels, ronki, egofoni
3. Gerakan
dada tidak simetris
4. Menggigil
dan demam 38,8 ° C sampai 41,1°C, delirium
5. Diafoesis
6. Anoreksia
7. Malaise
8. Batuk
kental, produktif
·
Sputum kuning kehijauan
kemudian berubah menjadi kemerahan atau
Berkarat
9. Gelisah
10. Sianosis
·
Area sirkumoral
·
Dasar kuku kebiruan
11. Masalah-masalah
psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati
2.8 Komplikasi
Pada paru – paru
penderita pneumonia di penuhi sel radang dan cairan yang sebenarnya merupakan
reaksi tubuh untuk mematikan kuman, tetapi karena adanya dahak yang kental maka
akibatnya fungsi paru terganggu sehingga penderita mengalami kesulitan bernafas
karena tidak adanya ruang untuk tempat oksigen. Kekurangan oksigen membuat sel
– sel tubuh tidak bisa bekerja karena inilah, selain penyebaran infeksi
keseluruh tubuh, penderita pneumonia juga bisa meninggal (Muttaqin, 2008).
Menurut Mansjoer
(2000) komplikasi pneumonia yaitu :
a. Abses
kulit
b. Abses
jaringan lunak
c. Otitis
media
d. Sinusitis
e. Meningitis
purualenta
f. Perikarditis
2.9 Pemeriksaan Penunjang
a. Sinar
X : mengidentifikasi distribusi struktural dapat juga menyatakan abses luas / infiltrat,
empiema (stapilococcus) : infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bakterial) :
penyebaran / perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia mikoplasma sinar x
dada mungkin bersih.
b. GDA
: tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan
penyakit paru yang ada.
c. Pemeriksaan
gram / kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum, aspirasi
transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi
organisme penyebab.
d. JDL
: leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi
virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial.
e. Pemeriksaan
serologi : titer virus atau legionella, aglutinin dingin.
f. LED
: meningkat
g. Pemeriksaan
fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar) yaitu tekanan
jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia.
h. Elektrolit
: natrium dan klorida mungkin rendah
i.
Bilirubin : mungkin
meningkat
j.
Aspirasi
perkutan/biopsi jaringan paru terbuka : menyatakan
intranuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik (CMV)
2.10
Penatalaksanaan
Medis
2.10.1
Terapi oksigen jika
pasien mengalami pertukaran gas yang tidak adekuat. Ventilasi mekanik mungkin
diperlukan jika nilai normal GDA tidak dapat dipertahankan.
2.10.2
Blok saraf interkostal
untuk mengurangi nyeri.
2.10.3
Pada pneumonia aspirasi
bersihkan jalan nafas yang tersumbat.
2.10.4
Perbaiki hipotensi pada
pneumonia aspirasi dengan penggantian volume Cairan.
2.10.5
Terapi antimikrobial
berdasarkan kultur dan sensitivitas.
2.10.6
Supresan batuk jika
batuk bersifat nonproduktif.
2.10.7
Analgesik untuk mengurangi
nyeri pleuritik.
2.11
Asuhan
Keperawatan
2.11.1
Pengkajian
Data dasar
pengkajian pasien :
1.
Aktivitas / istirahat
Gejala
: kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda
: Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas
2.
Sirkulasi
Gejala
: riwayat gagal jantung kronis
Tanda
: takikardi, penampilan keperanan atau pucat
3.
Integritas Ego
Gejala
: banyak stressor, masalah finansial
4.
Makanan / Cairan
Gejala
: kehilangan nafsu makan, mual / muntah, riwayat DM
Tanda
: distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan turgor buruk,
penampilan malnutrusi
5.
Neurosensori
Gejala
: sakit kepala dengan frontal
Tanda
: perubahan mental
6.
Nyeri / Kenyamanan
Gejala
: sakit kepala nyeri dada meningkat dan batuk myalgia, atralgia
7.
Pernafasan
Gejala
: riwayat PPOM, merokok sigaret, takipnea, dispnea, pernafasan dangkal,
penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal
Tanda
: sputum terdapat warna merah muda, berkarat atau purulen
a.
Perkusi : pekak diatas
area yang konsolidasi, gesekan friksi pleural
b.
Bunyi nafas : menurun
atau tak ada di atas area yang terlibat atau nafas bronkial
c.
Framitus : taktil dan
vokal meningkat dengan konsolidasi
d.
Warna : pucat atau
sianosis bibir / kuku
8.
Keamanan
Gejala
: riwayat gangguan sistem imun, demam
Tanda
: berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan, mungkin pada kasus
rubeda / varisela
9.
Penyuluhan
Gejala
: riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis
2.11.2
Diagnosa
Keperawatan
1.
Bersihan jalan napas
tidak efektif berhubungan dengan inflamasi trakheobronkial, pembentukan edema,
dan peningkatan produksi sputum (pleuritic pain atau timbulnya rasa nyeri saat
bernapas)
2.
Kerusakan pertuakaran
gas yang berhubungan dengan perubahan membran alveolar kapiler (efek inflamasi)
dan gangguan kapasitas pengangkutan oksigen dalam darah (karena demam maupun
perubahan kurva oksihemoglobin)
3.
Risiko tinggi
penyebaran infeksi yang berhubungan dengan tidak memadainya mekanisme
pertahanan tubuh primer (penurunan aktivitas silia, sekresi, stasis di saluran
napas), tidak memadainyamekanisme pertahanan tubuh sekunder (infeksi, imunosupresi),
penyakit kronis, dan malnutrisi
4.
Intoleransi aktivitas
yang berhubungan dengan tidak seimbangnya persendian dan kebutuhan oksigen,
kelemahan fisik yang umum, kelelahan karena gangguan pola tidur akibat
munculnya ketidaknyamanan, batuk produktif, dan dipsnea.
5.
Perubahan rasa nyaman
berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.
2.11.3
Perencanaan
Keperawatan
Diagnosa 1 :
Bersihan jalan napas tidak efektif
berhubungan dengan inflamasi trakheobronkial, pembentukan edema, dan
peningkatan produksi sputum (pleuritic pain atau timbulnya rasa nyeri saat
bernapas).
Tujuan : jalan
napas bersih dan efektif
Kriteria hasil :
a.
Secara verbal tidak ada
keluhan sesak
b.
Suara napas normal
(vesikular)
c.
Sianosis berkurang
d.
Batuk berkurang
e.
Jumlah pernapasan dalm
batas normal sesuai usia
Intervensi :
a.
Kaji jumlah atau
kedalaman pernapasan dan pergerakan dada.
Rasional
: evaluasi awal untuk melihat kemajuan dari hasil intervensi yang telah
dilakukan
b.
Auskultasi daerah paru,
catat area yang menurun / tidak adanya
aliran udara, dan adanya suara napas tambahan seperti crakles (bunyi yang
berkelainan, terputus-putus akibat penundaan pembukaan kembali jalan napas yang
menutup) dan wheezes (mengi).
Rasional
: penuruanan aliran udara timbul pada area yang terkonsolidasi dengan cairan. Suara
napas bronchial juga dapat terdengar.
c.
Elevasi kepala, sering
mengubah posisi
Rasional
: diafragma yang lebih rendah akan membantu dalam meningkatkan ekspansi dada,
pengisian udara, mobilisasi, dan ekspetorasi dari sekresi.
d.
Bantu pasien melakukan latihan
napas dalam. Dokumentasikan atau bantu pasien belajar untuk batuk.
Rasional
: napas dalam akan memfasilitasi ekspansi maksimum paru-paru/saluran udara
kecil.
e.
Lakukan suction sesuai
indikasi
Rasional
: stimulasi batuk untuk pembersihan saluran napas secara mekanis pada pasien
yang tidak dapat melakukannya dikarenakan ketidakefektifan batuk atau penuruan
kesadaran.
f.
Berikan cairan 2500
ml/hari (jika ada kontraindikasi), terutama berikan air hangat.
Rasional
: cairan (terutama cairan hangat) akan membantu memobilisasi dan
mengekspetorasi lendir.
g.
Kaji efek dari
pemberian nebulizer dan fisioterapi pernapasan lainnya.
Rasional
: memfasilitasi pencairan dan pengeluaran sekret.
Diagnosa 2 :
Kerusakan pertuakaran gas yang berhubungan dengan perubahan membran alveolar
kapiler (efek inflamasi) dan gangguan kapasitas pengangkutan oksigen dalam
darah (karena demam maupun perubahan kurva oksihemoglobin).
Tujuan :
pertukaran gas dapat teratasi
Kriteria hasil :
a.
Keluhan dipsnea
berkurang
b.
Denyut nadi dalam
rentang normal dan irama regular
c.
Kesadaran penuh
d.
Hasil nilai AGD (arteri
gas darah) dalam batas normal
Intervensi :
a.
Observasi warna kulit,
membran mukosa dan kuku, dan cacat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis
pusat (sirkumonal)
Rasional
: sianosis pada kuku menggambarkan vasokontiksi atau respons tubuh terhadap
demam.
b.
Kaji status mental.
Rasional
: kelemahan, mudah tersinggung, bingung dan keinginan kuat untuk tidur terus,
dapat merefleksikan adanya hipoksemia / penurunan oksigenisasi serebral.
c.
Monitor denyut / irama
jantung
Rasional
: takikardia biasanya timbul sebagai alat hasil dari demam atau dehidrasi,
tetapi dapat juga sebagai respons terhadap hipoksemia.
d.
Monitor suhu tubuh atas
indikasi. Lakukan tindakan - tindakan untuk mengurangi demam dan menggigil
Rasional
: demam tinggi (biasanya pada pneumonia bakteri dan influenza) akan
meningkatkan kebutuhan metabolik dan konsumsi oksigen serta mengubah
oksigenisasi selular.
e.
Pertahankan tirah
baring (bed rest). Anjurkan un tuk menggunakan teknik relaksasi dan aktivitas
disversi (hiburan)
Rasional
: pilihan ini dapat mencegah kelelahan dan mengurangi konsumsi oksigen untuk
memfasilitaskan resolusi infeksi
f.
Elevasi kepala dan
anjurkan perubahan posisi, napas dalam, dan batuk efektif
Rasional
: tindakan ini akan meningkatkan inspirasi maksimal, mempermudah ekspektorasi
lendir untuk meningkatkan ventilasi
g.
Kaji tingkat kecemasan
pasien. Anjurkan kepadanya untuk menceritakan perasaannya secara verbal.
Rasional
: kecemasan merupakan manifestasi dari psikologis sebagai respons fsiologis
terhadap hipoksia.
h.
Berikan terapi oksigen
sesuai kebutuhan, misal nasal prong dan masker
Rasional
: pemberian terapi oksigen untuk memelihara Pa O2 di atas 60 mmHg,
oksigen yang diberikan sesuai dengan toleransi dari pasien.
Diagnosa 3 :
Risiko tinggi penyebaran infeksi yang berhubungan dengan tidak memadainya
mekanisme pertahanan tubuh primer (penurunan aktivitas silia, sekresi, stasis
di saluran napas), tidak memadainya mekanisme pertahanan tubuh sekunder
(infeksi, imunosupresi), penyakit kronis, dan malnutrisi.
Tujuan : risiko
infeksi tidak terjadi selama masa perawatan
Kriteria hasil :
a.
Tidak muncul tanda -
tanda infeksi sekunder
b.
Pasien dapat
mendemonstrasikan kegiatan untuk menghindarkan infeksi
Intervensi :
a.
Monitor tanda-tanda vital,
terutama selama proses terapi
Rasional
: selama periode ini, penyakit berpotensi berkembang menjadi komplikasi yang
lebih fatal, sehingga benar-benar dimonitor
b.
Demonstrasikan teknik
mencuci yang benar
Rasional
: tindakan ini sangat efektif untuk mengurangi penyebaran infeksi
c.
Ubah posisi dan berikan
pulmonary toilet yang baik
Rasional
: meningkatkan ekspektorasi (pengeluaran lendir dan dahak) untuk membersihkan
dari infeksi
d.
Batasi pengunjung atas
indikasi
Rasional
: mengurangi paparan dengan kuman patogen yang lain
e.
Lakukan isolasi sesuai
dengan kebutuhan individual
Rasional
: isolasi mungkin dapat mencegah penyebaran atau memproteksi pasien dari proses
infeksi lainnya
f.
Anjurkan pasien untuk
istirahat secara memadai sebanding dengan aktivitasnya
Rasional
: memfasiliatasi proses penyembuhan dan peningkatkan pertahanan tubuh alami
g.
Monitor keefektifan
terapi antimikrobial
Rasional
: tanda - tanda perbaikan kondisi seharusnya muncul antara 24 - 48 jam
h.
Berikan obat
antimikroba atas indikasi sebagai hasil dari pemerikasaan kultur sputum / darah
Rasional
: obat-obat ini digunakan untuk membunuh mikroba penyebab pneumonia
Diagnosa 4 :
Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan tidak seimbangnya persendian dan
kebutuhan oksigen, kelemahan fisik yang umum, kelelahan karena gangguan pola
tidur akibat munculnya ketidaknyamanan, batuk produktif, dan dipsnea.
Tujuan :
aktivitas dapat terpenuhi selama perawatan
Kriteria hasil :
a.
Mampu melaporkan
kondisinya secara verbal, kekuatan otot meningkat, dan tidak ada perasaan
kelelahan
b.
Tidak ada sesak napas
c.
Denyut nadi dalam batas
normal
d.
Tidak muncul sianosis
Intervensi :
a.
Evaluasi respons pasien
terhadap aktivitas
Rasional
: memberikan kebutuhan pasien dan memfasilitasi dalam pemilihan intervensi
b.
Berikan lingkungan yang
nyaman dan batasi pengunjung selama fase akut atas indikasi
Rasional
: mengurangi stres dan stimulasi yang
berlebihan, serta meningkatkan istirahat
c.
Jelaskan pentingnya
beristirahat dalam rencana terapi dan perlunya keseimbangan antara aktivitas
dengan istirahat
Rasional
: tirah baring (bed rest) dapat menjaga kondisi pasien selama fase akut
d.
Bantu pasien dalam
mengambil posisi yang nyaman untuk beristirahat dan atau untuk tidur
Rasional
: pasien mungkin merasakan lebih nyaman di kepala jika dia berdad dalam keadaan
elevasi
e.
Bantu pasien dalam
memenuhi kebutuhan perawatan diri (self care) berikan aktivitas yang dapat
meningkatkan kesehatan diri selama fase penyembuhan
Rasional
: meminimalkan kelelahan dan menolong menyeimbangkan suplai oksigen dan
kebutuhan
Diagnosa 5 :
Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.
Tujuan :
Pasien akan
memperlihatkan sesak dan keluhan nyeri berkurang dapat batuk efektif dan suhu
normal.
Rencana Tindakan
:
a.
Cek suhu setiap 4 jam,
jika suhu naik beri kompres dingin.
b.
Kelola pemberian
antipiretik dan anlgesik serta antibiotic sesuai program.
c.
Bantu pasien pada
posisi yang nyaman baginya.
d.
Bantu menekan dada
pakai bantal saat batuk.
e.
Usahakan pasien dapat
istirahat/tidur yang cukup.
2.11.4
Implementasi
Selama tahap
implementasi perawat melaksanakan rencana asuhan keperawatan. Instruksi
keperawatan diimplementasikan untuk
membantu klien memenuhi kriteria hasil. Implementasi keperawatan bisa dilakukan
secara mandiri maupun berkolaborasi dengan tim medik lainnya.
BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1
Asuhan
Keperawatan dengan Tn. H pada kasus pneumonia
Tn.
H 44 tahun, datang ke IGD di antar oleh keluarga (adik laki-laki) dengan
keluhan sesak nafas satu minggu sebelum masuk rumah sakit. Oleh keluarga pasien
di berikan terapi pengobatan jamu tradisional namun tidak ada hasil. Di ruang
IGD, pasien mendapatkan terapi oksigen 10 lpm, karena pasien sesak berat,
dengan diagnosa petugas IGD : Observasi dipsneu,selanjutnya pasien diberi
rujukan rawat inap di ruang pepaya kelas 3 dan di terima oleh perawat ruangan dengan
keadaan umum sakit sedang, kesadaran composmentis.
Tanda-tanda
vital :
TD : 120/80 mmHg
N : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
S : 37 0C
Hasil radiologi
dan laboratorium :
Foto Thoraks :
Kesan :
Kardiomegali (HHD)
Laboratorium :
Leukosit : 16,0
(Normal 10 rb/uL
Fungsi Hati :
Bilirubin total
: 10,7 (normal <1,0 mg/dl)
Biliubin Direk
10,3 (normal <0.3 mg/dl
Setelah di kaji
pasien mempunyai masalah keperawatan utama bersihan nafas tidak efektif.
3.2
Pengkajian
I.
Identitas Pasien
Nama : Tn.
H
Umur : 44 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : jalan Terate 2 No. 25 RT/RW 009/04
Suku : Indonesia
Pekerjaan : Buruh
Mrs : 10 Desember 2014
Pengkajian : 16 Desember 2014
Regester : 83-59-42
Diagnosa masuk : Pneumonia
Umur : 44 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : jalan Terate 2 No. 25 RT/RW 009/04
Suku : Indonesia
Pekerjaan : Buruh
Mrs : 10 Desember 2014
Pengkajian : 16 Desember 2014
Regester : 83-59-42
Diagnosa masuk : Pneumonia
II.
Riwayat penyakit
sekarang
Alasan utama
MRS: Sesak
nafas 1 minggu sebelum masuk rumah sakit
Keluhan utama
: Sesak
nafas
III.
Riwayat penyakit dahulu
Pasien pernah
punya riwayat penyakit DM
IV.
Riwayat penyakit
keluarga
Pada keluarga ada yang menderita penyakit DM.
Pada keluarga ada yang menderita penyakit DM.
V.
Pola-pola fungsi
kesehatan
1.
Pola persepsi dan tata
laksana hidup sehat Kebiasaan
merokok(-) , penggunaan obat bebas (-) ketergantungan terhadap
bahan kimia (-), jamu (-), Olah raga/gerak badan (-).
3.3
Pola
nutrisi
Pasien mengatakan tidak nafsu
makan, mual (+), muntah (-), BB : 63 Kg, TB : 167 cm.
3.4
Pola
tidur dan istirahat
Tidur
Frekuensi : 2x/sehari
Jam tidur
siang : 2-3
jam
Jam tidur malam : 5-6
jam/hari
Keluhan :
tidak ada Istirahat
frekuensi : 4
– 6 x/hari
keluhan
: tidak
ada
VI.
Pola sensori dan
kognitif
Sensori : Daya penciuman, daya rasa, daya raba, dan daya pendengaran baik.
Kognitif : Proses berfikir dan daya ingat baik.
Sensori : Daya penciuman, daya rasa, daya raba, dan daya pendengaran baik.
Kognitif : Proses berfikir dan daya ingat baik.
VII.
Pola penanggulangan
stress
Minum obat dan cari pertolongan
Pemeriksaan fisik
Minum obat dan cari pertolongan
Pemeriksaan fisik
1. Status
kesehatan umum
Keadaan
penyakit sedang, kesadaran komposmentis, suara bicara jelas,
tekanan darah 120/80 mmHg, suhu tubuh 36,7◦C, pernapasan 20X/menit,
nadi 110X/menit, regular.
tekanan darah 120/80 mmHg, suhu tubuh 36,7◦C, pernapasan 20X/menit,
nadi 110X/menit, regular.
2.
Sistem integument
Tidak
tampak pucat, permukaan kulit baik, tekstur baik, rambut tipis dan
bersih, tidak botak, perubahan warna kulit tidak ada, warna rambut
hitam campur putih.
bersih, tidak botak, perubahan warna kulit tidak ada, warna rambut
hitam campur putih.
3.
Kepala
Simetris,
nyeri kepala tidak ada.
4. Muka
Simetris,
odema (-), otot muka dan rahang kekuatan normal, sianosis tidak ada
5.
Mata
Alis
mata, kelopak mata normal, konjuktiva anemis (+), pupil isokor, sclera
putih, reflek cahaya positif.
6.
Hidung
Mukosa
(-), secret (-), bau (-), obstruksi tidak ada, pernafasan cuping hidung (+).
7.
Mulut
Bibir
terlihat lembab.
8. Leher
Simetris, kaku kuduk tidak ada,
pembesaran vena jugularis (-).
9. Thoraks
Paru
Gerakan
simitris, retraksi supra sternal (-), retraksi intercoste (-), perkusi resonan,
snoring +/+ , wheezing -/-, vocal fremitus kuat dan simitris.
10. Jantung
Bunyi S1, S2 (+), S3, S4 (-)
11. Abdomen
Bising usus +, tidak
ada benjolan, nyeri tekan tidak ada,pembesaran hepar tidak ada .
12. Ekstrimitas
Jari tangan dan kaki lengkap, edema
-/-, kekuatan 4/4, gerak yang tidak disadari -/-, atropi -/-.
3.5
Pemeriksaan
penunjang
Foto Thoraks :
Kesan : Kardiomegali (HHD)
Pemeriksaan
Lab :
|
Hasil
|
Nilai Normal
|
Fungsi hati:
Bilirubin
total
Bilirubin
Direk
Bilirubin Indirek
Hematologi :
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
|
10,7
10,3
0,4
12,3
34
16,0
360
|
<
1,0 mg/dl
<
0,3 mg/dl
<
0,6 mg/dl
13-16
g/dl
40-48
vol %
5-10
rb/uL
150-400
rb/uL
|
3.6
Terapi
Obat-obatan.
·
O2
: 10
liter/menit
·
Cefriaxon
: 3
x 1 gram
·
Ondancentron : 3 x 1 Amp
·
Ranitidine : 2 x 1 gr
·
Cevopacaxim : 1 x 500
3.7
Analisa
Data
No.
|
Data
|
Masalah
|
1.
2.
|
Data Aktual :
Ds :
ü Pasien
mengeluh sesak nafas
ü Pasien
mengatakan batuk tapi sulit mengeluarkan dahak
DO :
ü Keadaan
umum sakit sedang
ü Kesadaran
composmentis
ü TTV :
TD = 120/80 mmHg, N= 84 x/menit, RR= 20 x/menit, S= 37 0C
ü Suara
nafas Snoring
Data Resiko :
DS :
ü Pasien
mengatakan tidak nafsu makan
ü Pasien
mengeluh mual (+), Muntah (-).
DO :
ü Kadaan
umum sakit sedang
ü Kesadaraan
composmentis
ü TTV :
TD = 120/80 mmHg, N = 84 x/menit, RR = 20 x/menit, S = 37 0C
ü TB :
167 cm
ü BB :
63 Kg
|
Bersihan jalan
nafas tidak efektif
Gangguan
pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
|
3.8
Diagnosa
Keperawatan
1)
Bersihan jalan nafas
tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum.
2)
Gangguan pemenuhan
kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
3.9
Rencana
Asuhan Keperawatan
Diagnosa keperawatan
|
Tujuan dan kriteria Hasil
|
Rencana Tindakan
|
Evaluasi
|
Bersihan jalan
nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum
Gangguan
pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia.
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam di harapkan sesak nafas berkurang
dengan kriteria hasil :
ü Sesak
nafas hilang
ü Jalan
nafas paten dengan bunyi nafas bersih
ü Batuk
negatif
ü Pasien
mudah mengeluarkan sputum
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi
tercukupi dengan kriteria hasil :
ü Pasien
menunjukkan peningkatan nafsu makan
ü Makan
habis 1 porsi / satu kali makan
|
1. Observasi TTV
2.
Berikan lingkungan yang nyaman
3.
Anjurkan pasien teknik relaksasi
4.
Berikan pasien minum air hangat
5.
Kolaborasi untuk pemberian terapi O2
dan terapi obat sesuai indikasi
1.
Identifikasi faktor anoreksia
2.
Menyajikan makanan dalam keaadaan
hangat
3.
Auskultasi bising usus
4.
Berikan makanan dalam oporsi kecil
tapi sering
5.
Kolaborasi untuk pemberian obat anti
mual
|
3.10
Implementasi
Tgl/Jam
|
No. Dx
|
Catatan Keperawatan
|
16 Des. 2014
06.30
06.45
07.30
10.00
10.30
12.00
13.30
|
1,2
1,2
1
2
1,2
|
Serah
terima tugas dari shif malam ke shif pagi
Keliling
kamar pasien memperkenalkan diri sebagai perawat yang akan bertugas pagi ini
Mengukur
TTV Tn. H :
RH
:
ü
TD : 120/80 mmHg
ü
N : 84 x/menit
ü
RR : 20 x/menit
ü
S : 37 0C
Melakukan
pengkajian kepada Tn. H:
RH
:
ü
Pasien mengatakan
sedikit sesak
ü
Pasien mengatakan ada
batuk dan sulit mengeluarkan dahak
ü
Pasien mengatakan
lemas
ü
Pasien mengatakan
tidak ada nafsu makan
ü
Keadaan umum sakit
sedang
ü
Kesadaran
composmentis
ü
Akral hangat
ü
TTV : TD : 120/80
mmHg, N : 84 x/menit, RR : 20 x/menit, S : 37 0C
Mengatur
posisi Tn. H
RH
: Pasien diberikan posisi fowler (900)
Memberikan
makanan dalam keadaan hangat kepada Tn. H.
Mengevaluasi
keadaan pasien.
RH
:
ü Pasien
mengatakan sedikit sesak
ü Pasien
mengatakan ada batuk dan sulit mengeluarkan dahak
ü Pasien
mengatakan lemas
ü Pasien
mengatakan tidak ada nafsu makan
ü Keadaan
umum sakit sedang
ü Kesadaran
composmentis
ü Akral
hangat
ü TTV
: TD : 120/80 mmHg, N : 84 x/menit, RR : 20 x/menit, S : 37 0C
|
17 Des. 2014
06.30
06.45
07.30
09.00
12.00
12.15
13.30
|
1,2
1
2
1
1,2
|
Serah
terima tugas dari shif malam ke shif pagi
Keliling
kamar pasien memperkenalkan diri sebagai perawat yang akan bertugas pagi ini
Mengukur
TTV Tn. H :
RH
:
ü TD
: 120/70 mmHg
ü N
: 80 x/menit
ü RR
: 19 x/menit
ü S
: 36,5 0C
Mengajarkan
pasien tehnik relaksasi nafas dalam dan batuk efektif
Memberikan
makanan dalam keadaan hangat
Menganjurkan
pasien minum air hangat
Mengevaluasi
|
3.11
Catatan
Perkembangan
Tgl/Jam
|
No. Dx
|
Evaluasi Hasil
(SOAP-SOAPIER)
|
16
Des. 2014
13.30
|
1
2
|
S
: Pasien mengatakan sesak nafas
O
:
ü Keadaaan
umum sakit sedang
ü Kesadaran
composmentis
ü TTV
: TD : 120/80 mmHg, N : 84 x/menit, RR : 20 x/menit, S : 37 0C
ü Nadi
kuat
ü Akral
hangat
A
: Masalah belum teratasi
P
: Lanjutkan Intervensi
S
:
ü Pasien
mengeluh tidak nafsu makan
ü Pasien
mengatakan mual berkurang
O
:
ü Keadaaan
umum sakit sedang
ü Kesadaran
composmentis
ü TTV
: TD : 120/80 mmHg, N : 84 x/menit, RR : 20 x/menit, S : 37 0C
ü Makan
habis 1/4 porsi
A
: Masalah belum teratasi
P
: Lanjutkan Intervensi
|
Tgl/Jam
|
No. Dx
|
Evaluasi Hasil
(SOAP-SOAPIER)
|
17
Des. 2014
13.30
|
1
2
|
S
: Pasien mengatakan sesak nafas berkurang
O
:
ü Keadaaan
umum sakit sedang
ü Kesadaran
composmentis
ü TTV
: TD : 120/70 mmHg, N : 80 x/menit, RR : 19 x/menit, S : 36,5 0C
ü Akral
hangat
A
: Masalah belum teratasi
P
: Lanjutkan Intervensi
S
:
ü Pasien
mengatakan nafsu makan bertambah
ü Pasien
mengatakan mual berkurang
O
:
ü Keadaaan
umum sakit sedang
ü Kesadaran
composmentis
ü TTV
: TD : 120/70 mmHg, N : 80 x/menit, RR : 19 x/menit, S : 36,5 0C
ü Makan
habis 1/2 porsi
A
: Masalah teratasi sebagian
P
: Lanjutkan Intervensi
|
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pneumonia didefinisikan sebagai inflamasi/peradangan
pada parenkim paru yang dicirikan oleh konsolidasi bagian-bagian yang terkena
dan terisinya rongga alveolus oleh eksudat, sel-sel radang dan fibrin.
Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, dan dapat
juga disebabkan oleh inhalasi bahan kimia, trauma pada dinding dada atau agen -
agen infeksius lainnya seperti riketsia, fungi. Pneumonia merupakan bentuk
utama yang menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi serta kerugian
produkifitas kerja. Pneumonia dapat terjadi secara primer atau merupakan tahap
lanjutan manifestasi lainnya, misalnya sebagai perluasan bronkiektasis yang
terinfeksi.
Pneumonia dapat berupa pneumonia yang terjadi di
masyarakan dan pneumonia nosokomial yang terjadi di rumah sakit. Penyakit ini
menyebabkan angka kematian yang tinggi diantara pasien terutama yang terinfeksi
di ICU. Berbagai aspek penyakit ini pelu dipahami untuk dapat mengatasinya
dengan baik.
4.2 Saran
a.
Bagi Mahasiswa
Meningkatkan kualitas belajar dan
memperbanyak literatur dalam pembuatan makalah agar dapat membuat makalah yang
baik dan benar.
b.
Bagi Pendidikan
Bagi dosen pembimbing agar dapat
memberikan bimbingan yang lebih baik dalam pembuatan makalah selanjutnya.
c.
Bagi Kesehatan
Memberikan pengetahuan kepada
mahasiswa kesehatan khususnya untuk mahasiswa keperawatan agar mengetahui
penyakit gangguan saluran pernafasan dalam hal ini meliputi definisi, etiologi,
patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan
medis dan dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien pneumonia.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges,
Marilynn.(2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi. Jakata : EGC.
Smeltzer,
Suzanne C.(2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume I. Jakarta : EGC
Zul
Dahlan.(2000). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit : FKUI.
Reevers,
Charlene J, et all (2000). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Salemba Medika.
Nettina,
Sandra M. (2001). Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC
Bunner
dan Sudarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah (edisi 8). Jakarta : EGC
Sandra,
M, Netina. 2001. Pedoman praktik keperawatan. Jakarta : EGC
Related Posts:
Langganan:
Postingan (Atom)